
Senin malam 8 Juli kami mulai maota (mengobrol) di depan sekre ditemani ubi rebus, kerupuk dan tojin jagung, semua cemilan itu hasil kami keliling RW 1 di sore harinya. Sore harinya kami jalan kerumah perangkat desa atau RT/RW dan warga untuk mengundangnya layaknya mamanggia (mengundang warga dari pintu ke pintu kebiasaan orang Minang ketika ada hajatan) warga untuk hadir ngobrol nanti malam. Sembari jalan kami membeli goreng di warung bu RT. Saya menikmati jalan sore di daerah ini sambil memetakan apa yang bisa di petakan untuk tahu dan kenal daerah tersebut. Butuh waktu sejam untuk keliling kampung dengan jalan kaki.


Obrolan malam ini bertajuk “Sut Usut Tuntas Praktik Semesta Guild x FSRT05”, ini merupakan rangkaian dari kegiatan pameran arsip Gerilayar- Sinema Memang Unik. Kegiatan dimulai oleh Spansan setelah Tukiang datang. Tukiang bisa dikatakan seniman residensi yang sudah cukup lama menetap dan sering bolak balik ke kampung ini karna kampungnya sejam paling lama kesini dengan motor. Tukiang sudah seperti menjadi warga disini saja. Spansan memulai obrolan dengan memperkenalkan apa yang dikerjakan warga FSRT05 dan Tukiang. Selama setahun disini Tukiang dan warga RT05 telah melahirkan 4 film sebagai bentuk respon lingkungan sekitar karena memiliki kesamaan minat. Tukiang dan warga RT05 yang diwakili abi menceritakan bagaimana film itu lahir, ingatan kolektif warga yang ada secara turun temurun di RT05 yang sama dirasakan Tukiang dikampungnya memancing mereka menjadikan cerita yang menakuti mereka dari kecil itu ke bentuk audio visual yang kita kenal film. Setelah selesai membuat film pertama “Jangan biarkan makanan terbuka” mereka kembali menemukan kesamaan cerita yang akhirnya membuat film kedua yang diberi judul “Jangan Biarkan Pintu Terbuka” dari kedua film tersebut secara tidak sadar mereka telah mengarsipkan cerita cerita yang beredar di masyarakat. Mereka mengupgrade budaya tradisi lisan yang sudah lama adanya ke budaya layar. Setelah selesai dengan 2 film yang hanya diikuti oleh mereka mereka saja. Di film ketiga mereka memperluas kerjasama dengan warga sekitar. Sebuah film yang dipersembahkan untuk para ibu yang berjudul “Meja Makan”. Di film ke 4 mereka merespon kejadian disekitar yang diberi judul “Intel Frengki”.

Setelah selesai menjelaskan praktik mereka buk RT juga ikut berbicara setelah melihat praktik mereka selama ini. Bu RT awalnya hanya heran apa yang dilakukan para pemuda ini apalagi Tukiang dengan rambut gondrong dan pirangnya itu, warga disini belum terbiasa dengan penampilan Tukiang. Banyak pertanyaan di kepala bu RT awalnya melihat mereka, begitupun juga dengan warga. Bu RT tau setelah mereka mengajak bu RT ikut andil dalam film mereka “Meja Makan” sebagai salah satu pemeran. Ditambah lagi bu RT kagum melihat mereka mengadakan Sinema Memang Unik yang mampu menggerakkan dan mengikutsertakan pemuda yang ada disekitar FSRT 05. Tetapi bu RT melihat gerakan ini sebaiknya dipublikasikan dengan baik ke warga sekitar terkhususnya Di RW 1 dan RW 2 biar yang ikut serta lebih merata dan warga melihatnya menjadi sebuah pergerakan yang positif.
Acara ini juga dihadiri oleh Edo Crowdit dan teman lainnya. Sesampai di sekre Edo berkeliling sekre dan merasa rugi tidak datang di sore hari, karna edo sangat menyukai sekre FSRT 05 yang berbentuk warung dengan bentangan sawah yang luas ditambah cerita warga disini bahwa sunset selalu bagus disini. Edo Crowdit juga mempunyai kolektif film yaitu Relarugi foundation berbagi cerita bagaimana dia menjalankan kolektif tersebut dan berjalan sampai hari ini walau tidak se masif awal munculnya. Edo mempertanyakan apa yang akan dilakukan FSRT 05 setelah acara Sinema Memang Unik ini selesai karena kolektif di daerah kebanyakan vakum setelah acara itu usai. Edo juga mempertanyakan apa program jangka panjang warga FSRT 05, dia juga menyatakan terbuka untuk berkolaborasi bersama warga.
Di sepanjang obrolan itu bunyi kunyahan jagung dan patahan patahan kerupuk bisa dikatakan tidak berhenti saking enaknya cemilan tersebut. Beberapa orang membuka kulit ubi yang telah direbus sesekali melihatkan ekspresi kepanasan karena ubi tersebut.
Obrolan dilanjutkan oleh AkmalPalah anak muda yang juga bergiat di film bersama kolektifnya Bla Collective, mereka aktif membuat film dan sesekali memutar film di ruang publik. Akmal sudah menetap hampir 3 minggu disini, melihat dan mendengar praktik Semesta x FSRT 05. Akmal melihat mereka sangat produktif dan akmal menyukai proses mereka melahirkan karya karya tersebut.
Kemudian saya juga menanggapi apa yang dikatakan Tukiang sebelumnya bahwa mereka shooting tidak mengikuti tahap tahap yang dipelajari mahasiswa film secara formal mereka membuat film secara spontan yang berawal dari obrolan tongkrongan. Namun saya melihatnya mereka telah melewati tahap tahap tersebut mungkin mereka tidak tahu saja. Seperti mereka tidak menulis naskah, cek lokasi, recce dan sebagainya. Namun mereka sudah menulis naskah tersebut di kepala mereka, apalagi masalah lokasi mereka sudah mengecek lokasi dan tau sedari awal mereka menetap di kampung ini. Namun di film yang akan mereka garap selanjutnya mereka akan mencoba tahap tahap tersebut dibantu oleh AkmalPalah yang memiliki pendidikan Film.



Selain memproduksi film FSRT 05 juga memiliki cita-cita membuat eksibisi film yang lebih dari yang mereka lakukan sekarang dan lebih melibatkan banyak warga sekitar dengan kelokalan warga itu sendiri.Semoga FSRT 05 selalu bergerilya membentangkan layarnya di setiap sudut kota,desa, RT/RW sampai ke gang sempit sekali pun.
Penulis: Erwin
Foto: Arsip Forum Studi RT05 & Erwin
